
Kuningan – Khatulistiwatipikor.com
Dalam rangka memastikan keberlanjutan dan keselamatan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cidahu Cieurih 3 bersiap menggelar kegiatan Safari Sosialisasi Keamanan Pangan ke berbagai Dapur Pelayanan Makan (DPM) dan satuan pendidikan penerima manfaat. Langkah ini diambil sebagai bagian dari penguatan tata kelola terstandar guna menekan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB), seperti kasus keracunan makanan.
Meskipun pelaksanaan Program MBG terus berjalan intensif dengan pengawasan ketaatan terhadap Standard Operating Procedure (SOP), penerapan di lapangan masih menghadapi sejuta tantangan. Salah satu fokus SOP yang terus dioptimalkan adalah pencantuman label pada kemasan (ompreng) makanan, sebagaimana diamanatkan dalam Surat Edaran (SE) No. 21 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Penerapan Label Pada Ompreng Dalam Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Label tersebut memuat batas waktu konsumsi serta imbauan agar makanan tidak dibawa pulang.
Namun, evaluasi lapangan menunjukkan pelaksanaan labelisasi tersebut belum berjalan sepenuhnya optimal. Kendala yang muncul meliputi penumpukan sampah sisa label, tindakan siswa yang melepas stiker kemasan, hingga minimnya tingkat literasi yang membuat informasi pada label sekadar dianggap sebagai hiasan visual tanpa dipahami maknanya.
Menjawab tantangan tersebut, Kepala SPPG Cieurih 3, Deden Rusmana, S.P., menegaskan pentingnya edukasi langsung di tingkat tapak agar pesan keamanan pangan dapat tersampaikan secara efektif.
“Kami tidak bisa hanya mengandalkan label fisik pada ompreng. Oleh karena itu, SPPG Cidahu Cieurih 3 merencanakan Safari Sosialisasi ke satuan DPM untuk memberikan pemahaman langsung mengenai pentingnya keamanan pangan dan ketaatan pada batas waktu konsumsi. Ini adalah langkah preventif konkret untuk mencegah terjadinya KLB,” ujar Deden Rusmana, S.P.
Rencana strategis ini mendapat dukungan penuh dari Mitra SPPG Cieurih 3, Nanang Suwarman. Beliau menyoroti pentingnya media edukasi visual yang interaktif dan mudah dipahami oleh anak-anak sekolah maupun masyarakat luas.
“Saya sangat mendukung inisiasi safari ini. Untuk memperkuat dampaknya, kami juga mendorong pembuatan poster kampanye edukatif yang menarik untuk dipajang di setiap sekolah dan Posyandu. Isi poster tersebut akan memuat panduan praktis cara mengenali dan membedakan makanan yang sudah tidak layak konsumsi,” ungkap Nanang Suwarman.(24/9/2026).
Melalui kolaborasi antara sosialisasi tatap muka dan penyebaran media visual edukatif, diharapkan pemahaman para siswa, pengelola DPM, serta orang tua terhadap standar keamanan pangan dapat meningkat secara signifikan, sehingga tujuan utama Program Makan Bergizi Gratis dalam mewujudkan generasi sehat dan berkualitas dapat tercapai tanpa kendala keselamatan.(Red)
