KUNINGAN – Khatulistiwatipikor.com
Minggu 20 September 2026. Ketua Forum Masyarakat Peduli Kuningan (FORMASI), Manap Suharnap, meminta agar wacana pengembangan panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ciremai tidak sekadar berhenti pada narasi potensi energi yang besar dan kebutuhan investasi semata.
Pernyataan ini disampaikan Manap menanggapi pandangan anggota DPR RI Fraksi Gerindra, H. Rokhmat Ardiyan, M.M., terkait potensi geothermal nasional. Manap menilai, narasi potensi nasional tersebut harus diikuti oleh penjelasan yang konkret, terbuka, dan terukur apabila dikaitkan dengan rencana eksplorasi di Gunung Ciremai.
Menurut Manap, persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat Kuningan bukan mengenai status geothermal sebagai energi terbarukan, melainkan apakah Gunung Ciremai merupakan lokasi yang tepat, aman, dan membawa manfaat seimbang dibanding risiko yang harus ditanggung masyarakat.
“Kalau bicara potensi geothermal Indonesia, kita tidak mempertentangkannya. Tetapi jangan potensi nasional digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap lokasi otomatis aman dieksploitasi. Ciremai punya karakteristik geologi, hutan, air, dan masyarakat yang harus dikaji secara spesifik,” tegas Manap.(20/9/2026).
Ia mendesak pemerintah dan pihak terkait membedakan secara tegas antara potensi umum, sumber daya, cadangan, cadangan terbukti, hingga kapasitas pembangkitan yang layak secara teknis dan ekonomis. FORMASI mempertanyakan kejelasan data teknis seperti jumlah titik pemboran, cadangan terbukti, hingga sumber dan kuantitas air yang akan digunakan.
ISU URANIUM dan KESELAMATAN SUMBER AIR
Menanggapi isu uranium atau potensi unsur radioaktif di Ciremai, FORMASI menegaskan tidak ingin hal ini menjadi ketakutan tanpa dasar ilmiah. Namun, jika informasi mengenai uranium pernah dilontarkan oleh Rokhmat Ardiyan, maka data tersebut wajib dibuka dan diverifikasi secara transparan.
“Kalau ada data uranium di kawasan Ciremai, buka datanya. Di mana lokasinya, berapa kadarnya, siapa yang mengukur, dan bagaimana hasil laboratoriumnya. Jika hanya keberadaan alamiah, jelaskan secara ilmiah bedanya dengan indikasi mineralisasi atau deposit yang layak ditambang agar masyarakat tidak salah paham,” ujar Manap.
Selain itu, FORMASI menyoroti fungsi ekologis Gunung Ciremai sebagai penopang kehidupan, pertanian, pariwisata, dan ekonomi daerah melalui ketersediaan air hulu. Label energi terbarukan ditegaskan tidak berarti bebas dari risiko ekologis.
“Listrik bisa dihitung dalam megawatt, air juga harus dihitung. Berapa air yang dipakai eksplorasi dan operasi? Bagaimana sistem reinjeksinya? Bagaimana memastikan mata air masyarakat tidak terganggu? Semua harus ada jawabannya,” lanjutnya.
TRANSPARANSI MANFAAT dan PERINGATAN “Londo Ireng”
FORMASI juga mempertanyakan dampak ekonomi konkret bagi Kabupaten Kuningan di tengah wacana insentif bagi investor geothermal. Manap menekankan bahwa masyarakat daerah penghasil berhak atas kepastian manfaat, mulai dari penerimaan daerah, bonus produksi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal.
Dalam kesempatannya, Manap turut melontarkan peringatan keras agar agenda investasi tidak mengesampingkan kedaulatan masyarakat atas sumber daya alamnya.
“Jangan sampai Presiden Prabowo anti londo ireng, justru anak buahnya menjadi bagian dari londo ireng. Ini peringatan agar kebijakan publik tidak mengutamakan kepentingan modal dibanding kepentingan rakyat hingga masyarakat daerah hanya menjadi penonton dan menanggung risiko,” tegasnya.
TUNTUTAN FORMASI SEBELUM PEMBORAN
FORMASI mengimbau DPR RI, Pemerintah Pusat, Pemkab Kuningan, dan lembaga teknis terkait untuk membuka seluruh dokumen dan kajian penting kepada publik sebelum kegiatan pemboran eksplorasi dimulai. Dokumen yang dimaksud mencakup:
Jumlah titik dan kedalaman sumur pemboran.
Kebutuhan, sumber air, serta sistem reinjeksi.
Luas kawasan, status tata ruang, dan status kawasan hutan.
Kajian hidrogeologi, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), dan mitigasi risiko.
Rincian potensi radioaktivitas alamiah (jika ada) serta skema pertanggungjawaban dampak lingkungan.
“Kami tidak mempertentangkan energi dengan lingkungan. Keduanya harus berjalan bersama. Ketahanan energi penting, tetapi keselamatan masyarakat dan keberlanjutan sumber air tidak boleh dikorbankan. Jangan mulai mengebor sebelum data Ciremai benar-benar dibuka kepada publik,” pungkas Manap.(Red)
