Plastik Transparan di Atas Bangkai: Ketika Pencitraan Mengemas Kebusukan.  Oleh: Ketua Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) DPC Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

Plastik Transparan di Atas Bangkai: Ketika Pencitraan Mengemas Kebusukan. Oleh: Ketua Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) DPC Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

Spread the love

KUNINGAN – Khatulistiwatipikor.com

Jumat 7 Agustus 2026. Di era di mana persepsi dianggap lebih berharga daripada realitas, pencitraan telah bergeser dari sekadar alat komunikasi publik menjadi seni menyembunyikan kebusukan. Dari sudut pandang jurnalistik, kami di daerah sering kali menyaksikan bagaimana buah yang mulai membusuk dipoles sedemikian rupa hingga mengilap. Kebijakan bermasalah, dugaan penyelewengan, hingga ketidakkompetenan kerap hadir berbalut kemasan manis: narasi kedermawanan, estetika media sosial yang rapi, dan untaian kata-kata santun.

Pencitraan yang manipulatif bekerja dengan mengalihkan fokus masyarakat dari substansi ke permukaan. Ketika sebuah lembaga atau pejabat publik dihantam kritik, reaksi pertama yang muncul sering kali bukan pembenahan teknis atau transparansi anggaran, melainkan pengerahan strategi kehumasan. Kampanye kebaikan buatan dan perjumpaan seremonial yang diatur sedemikian rupa dirancang untuk menciptakan kabut persepsi. Publik disajikan visual yang menyejukkan, sementara masalah utama dibiarkan mengendap di bawah permukaan.

Dalam pengamatan kami di lapangan, terdapat beberapa pola bagaimana kebusukan dikemas secara sistematis.

Eufemisme bahasa. Kebijakan yang membebankan masyarakat dibingkai sebagai “penyesuaian”, sementara dugaan penyimpangan anggaran diringankan dengan label “kekhilafan administratif”.

Kedermawanan ferformatif. Membagikan sebagian kecil sumber daya di depan kamera demi meraih simpati dan membungkam suara kritis.

Pengalihan isu visual. Membanjiri ruang publik dengan pencapaian seremonial untuk membiaskan persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

Dampak dari fenomena ini sungguh merusak logika publik. Ketika pencitraan berhasil mengelabui mata, akuntabilitas kontrol sosial ikut tergerus. Masyarakat terlatih untuk menilai kinerja hanya dari apa yang tampak di layar ponsel, bukan dari kenyataan di lapangan.

Pers memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi perpanjangan tangan dari kemasan-kemasan palsu tersebut. Kebaikan sejati berakar pada transparansi, keterbukaan informasi, dan keberanian mengakui kekurangan. Sebagai kontrol sosial, tugas kita bersama adalah terus membedakan mana integritas yang jujur dan mana kebaikan yang diproduksi. Jangan biarkan mata kita terpesona oleh rapinya kemasan, sampai lupa menguji kebenaran yang ada di dalamnya.(R.Djunaedy : Jack Banten)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *